Bertempat di SMAN 1 Merauke sesuai dengan
kesepakatan dengan kepala sekolah bapak Sergius Womsiwor, S,Pd, M,Pd dilaksanakanlah
sosialisasi selama tiga hari untuk memperkenalkan Rumah Belajar, Fitur-fitur
rumah belajar dan juga Inovasi Pembelajaran dan praktik-praktik baik dalam
pembelajaran jarak jauh. Acara dipandu oleh ibu Dra. Benedikta Sri Lestari
Kelanit yang sehari-hari mempunyai tugas sebagai wakil kepala sekolah bidang
hubungan masyarakat. Diawali dengan doa oleh bapak John Lumalessyl, S.PAK, M.Pd
dan dilanjutkan dengan pengarahan yang disampaikan oleh bapak kepala sekolah.
Dalam arahan dan sambutannya kepala sekolah mengapresiasi semua prestasi yang telah dicapai oleh keluarga besar SMAN 1 Merauke. Dari mulai prestasi siswa di FLSN, Parlemen Remaja, Putra-putri Budaya dan juga prestasi gurunya yang terpilih sebagai pendamping Guru Penggerak dan juga calon Duta Rumah Belajar 2020. Terkhusus dalam hal Duta Rumah Belajar kepala sekolah menyampaikan kembali bahwa pendidikan di Papua adalah pendidikan dalam kondisi unik maka pelayanannya juga harus dengan cara unik. Pendekatan sosiokultural dan budaya harus dikedepankan agar antara peserta didik dan pendidik dapat lebih menyatu dalam olah rasa, olah pikir dan olah hati. Pelayanan yang diberikan kepada peserta didik harus pelayanan prima, maka bekerja dengan hati (work with heart) harus selalu dikedepankan. Secara khusus kepada saya pribadi kepala sekolah berpesan agar jangan pernah bosan dan lelah dalam memajukan peserta didik terkhusus OAP (Orang Asli Papua)
Materi
sosialisasi di hari pertama adalah memperkenalkan aplikasi rumah belajar yang
ternyata baru pada status pernah dengar. Jadi memang tepat jika kepala sekolah
menyarankan sosialisasi harus pada teman-teman kerja di SMAN 1 Merauke dulu. Pada kesempatan ini saya sampaikan bahwa
kondisi pandemi Covid-19 ini memaksa kita untuk melakukan perubahan dalam
melaksanakan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. Cara penyampaian materi
sekarang menggunakan cara pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang mana setelah lebih
kurang 6 bulan dilaksanakan bukan berarti tidak ada masalah. Muncul masalah
baru yaitu ketidaknyamanan yang berkelanjutan. Baik dari sisi peserta didik,
orang tua dan juga pendidik itu sendiri. Sekitar 66% dari 6 juta peserta didik
merasa tidak didampingi, orang tua harus memiliki kemampuan yang cukup untuk mendampingi peserta didik dalam
pembelajaran, pendidik harus selalu mencari jalan apa media yang tepat untuk
melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Belum lagi berbicara mengenai koneksi
internet, kuota data, gawai yang harus dimiliki.
Masalah gawai yang harus dimiliki, sekolah
membantu dengan meminjamkan tablet. Masalah kuota internet, saat ini pemerintah
sudah membantu dengan kuota internet gratis. Akhirnya masalah yang harus
dipikirkan berikutnya adalah sumber belajar yang mana yang baik untuk
digunakan. Disinilah hadirnya Rumah Belajar sangat berperan. Mengapa harus
rumah belajar ?
Resume
Setelah
pemaparan materi pengenalan aplikasi Rumah Belajar maka muncul beberapa
pertanyaan :
1.
Jika pernah
mendaftar di rumah belajar dan lama tak dibuka apakah user dan password masih
berlaku? (Di SMAN 1 Merauke emang pernah saya laksanakan sosialisasi rumah
belajar dalam rangka literasi digital di tahun 2019)
Jawab : sepanjang
masih diingat user dan passwordnya maka masih bisa digunakan
2.
Jika tak ada
koneksi internet apakah rumah belajar masih bisa diakses?
Jawab : bisa,
menggunakan rumah belajar versi offline
3.
Dan beberapa
pertanyaan yang bersifat tehnis, seperti mengapa akses ke rumah belajar sering
tidak nyambung yang lain yang menjadi diskusi santai dan menyenangkan








0 Komentar:
Posting Komentar