PembaTIK Level 4 tahun 2021- Berkolaborasi mengadakan Sosialisasi Rumah Belajar di SMPN 2 Merauke.
Pada tanggal 6 November 2021 kami berlima (penulis, pak Umar, pak Khoirul, ibu Septi dan tentunya tuan rumah pak Syafii) melanjutkan kegiatan yang sudah kami rencanakan yaitu Sosialisasi Rumah Belajar di SMPN 2 Merauke. Agak berbeda dengan SMAN 1 Satap Wasur, sekolah ini terletak di dalam kota dan memiliki jaringan yang cukup bagus. Bagi penulis pribadi berkunjung ke SMPN 2 Merauke adalah seperti berkunjung ke keluarga sendiri karena di SMPN 2 Merauke banyak bapak/ ibu yang sudah cukup senior dalam bertugas. Sehingga sewaktu kita tiba di sekolah tersebut cukup mendapat sambutan hangat, bahkan sebelum acara di mulaipun sudah terjadi obrolan-obrolan ringan yang isinya mereka tertarik untuk ikut kegiatan pembaTIK ini, sehingga sudah banyak yang bertanya bagaimana cara ikutnya? Apa saja yang harus dikerjakan dalam setiap levelnya, jadinya ketika sosialisasi berjalan jadi nyaman dan friendly.
PembaTIK Level 4 tahun 2021- Berkolaborasi mengadakan Sosialisasi Rumah Belajar di SMAN 1 Satap Wasur Merauke.
SMA 1 Satap Wasur Merauke, terletak 21 kilometer dari kota Merauke. Jalannya cukup baik, hanya tak ada sinyal seluler di daerah tersebut atau blank spot. Itulah sekolah tujuan kami berlima SRB Merauke 2021 yaitu penulis sendiri, pak Umar Latifui, pak Khoirul Anam (yang ini memang bertugas disana), pak Syafii dan ibu Septi. Sesuai perjanjian maka kita akan bertemu di TKP. Hanya penulis dan pak Umar Latifui sudah punya janji untuk berangkat bersama jam 07.00 WIT karena sama-sama menggunakan motor yang sudah berumur (penulis menggunakan Suzuki Smash 2003) jadi harus pelan-pelan sesuai kemampuan..... :-)
PembaTIK Level 4 tahun 2021- Sosialisasi Rumah Belajar di SMAN 1 Merauke
Dalam rangka membumikan Rumah Belajar di kalangan pendidik khususnya di SMAN 1 Merauke maka pada 4 November 2021 bertempat di laboratorium komputer Nauce. Oya ruang-ruang di SMAN 1 Merauke menggunakan nama-nama Papua untuk memperkenalkan kepada keluarga besar SMAN 1 Merauke (kearifan lokal)
Coaching PembaTIK Level 4 Tahun 2021
Alhamdulillah...itulah yang terucap dari bibir ini ketika
mengetahui bahwa masuk dalam level 4 PembaTIK tahun 2021 ini. Bersama dengan 27
teman lain di seluruh Papua akhirnya kita bersama menjadi Sahabat Rumah Belajar
(SRB) di tahun 2021 ini.
Proses kita adalah melaksanakan tugas-tugas yang di
persyaratkan dalam level 4 ini. Untuk mendukung kegiatan tersebut kita para SRB
juga di dampingi oleh para pendamping dari Pusdatin Kemendikbudristek dan juga
para Duta-duta Rumah Belajar Tahun 2017 sampai dengan tahun 2020
Aku, Siswaku dan Rumah Belajar Kita
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengalami peningkatan sangat pesat disemua sektor salah satunya aspek yang terkena imbasnya adalah dunia pendidikan.
Dimana
peranan TIK sangat berpotensi tinggi dalam meningkatkan SDM yang berkualitas
baik secara life skill maupun life style.
Dunia
pendidikan tidak pernah terlepas dari persoalan global. Seperti saat ini krisis
yang sedang dialami di beberapa negara salah satunya Indonesia yang terkena
penyebaran wabah virus covid. Dampaknya mengharuskan pemerintah mengeluarkan
kebijakan tentang social distancing yang diatur dalam UU No.6 Tahun 2018
tentang karantina kesehatan yang kemudian dipertegas dengan PP No.21 Tahun 2020
dan Permenkes 9 Tahun 2020 tentang pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Pembelajaran Dengan Menggunakan Rumah Belajar pada Fitur Sumber Belajar – Materi Median Data Berkelompok
Pada pembelajaran di masa pandemi Covid-19 diperlukan berbagai macam trik dan cara agar peserta didik menjadi nyaman belajar. Pendidik seharusnya mempunyai komitmen untuk menciptakan merdeka belajar yang tetap mengedepankan kualitas namun tidak meninggalkan kebermaknaan pembelajaran itu sendiri.
Merdeka Belajar menjadi salah satu program inisiatif
Mendikbudristek Nadiem Makarim yang ingin menciptakan suasana belajar yang
bahagia, baik bagi murid maupun para guru. Merdeka Belajar ini konon dilahirkan
dari banyaknya keluhan orangtua pada sistem pendidikan nasional yang berlaku
selama ini. Salah satunya ialah keluhan soal banyaknya siswa yang dipatok
nilai-nilai tertentu.







